Sukseskan 1000 Kolam Ikan Gus Irawan Pasaribu Mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tapanuli Selatan

KABAR DAERAH

Sukseskan 1000 Kolam Ikan Gus Irawan Pasaribu Mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tapanuli Selatan

Oleh: Dr. Suheri Harahap, M. Si             Ketua Pusat Study Eco Teologi FIS UIN Sumatera Utara

buserbhayangkaranews.com| Medan (28/6/2025)

Adanya pelaksanaan pelatihan Pembenihan Semi Buatan Ikan Mas yang digelar Pemkab Tapanuli Selatan bekerjasama dengan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Amphibi Tapsel di Desa Padanglancat Sisoma, Kecamatan Batangtoru.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, berikut adalah penjelasan detail mengenai pelaksanaan Pelatihan Pembenihan Semi Buatan Ikan Mas yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Amphibi Tapsel.

Pelatihan ini merupakan salah satu langkah strategis Pemkab Tapanuli Selatan, di bawah kepemimpinan Bupati, untuk meningkatkan kemandirian pangan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui sektor perikanan.

Latar Belakang dan Tujuan Pelatihan

Pelatihan ini digelar sebagai respons atas beberapa isu strategis di Tapanuli Selatan:

Ketergantungan Pasokan Ikan: Kebutuhan konsumsi ikan di Tapanuli Selatan mencapai sekitar 15.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru mampu memenuhi setengahnya. Sisa kebutuhan selama ini dipasok dari luar daerah, yang menyebabkan harga menjadi lebih mahal dan tidak stabil.

Program Unggulan “1000 Kolam”: Bupati mencanangkan program unggulan “1000 Kolam” untuk menggenjot produksi ikan lokal. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan benih ikan yang berkualitas. Tanpa kemampuan pembenihan mandiri, para pembudidaya akan tetap bergantung pada pasokan benih dari luar.

Peningkatan Keterampilan Masyarakat: Pemkab menyadari bahwa membangun infrastruktur (kolam) saja tidak cukup. Perlu ada peningkatan sumber daya manusia (SDM) agar masyarakat memiliki keterampilan teknis untuk melakukan pembenihan, yang merupakan fase paling krusial dan sulit dalam siklus budidaya ikan. Tujuan Utama dari pelatihan ini adalah untuk menciptakan kader-kader pembudidaya yang mampu melakukan pembenihan ikan mas secara mandiri, sehingga dapat memasok kebutuhan benih untuk program 1000 kolam dan meningkatkan produksi perikanan secara keseluruhan.

Detail Pelaksanaan

Penyelenggara: Pemkab Tapanuli Selatan melalui Dinas Perikanan, bekerja sama secara teknis dengan P2MKP Amphibi Tapsel.

Lokasi: Pelatihan dipusatkan di Desa Padanglancat Sisoma, Kecamatan Batangtoru, yang menjadi basis operasional P2MKP Amphibi Tapsel. Waktu: Pelatihan ini berlangsung secara intensif selama tujuh hari, sekitar periode 19 – 26 Maret 2025. Peserta: Peserta pelatihan ini sangat strategis, yaitu perwakilan kepala desa dari Kecamatan Batangtoru dan Marancar. Keterlibatan kepala desa diharapkan dapat mempercepat penyebaran informasi dan penerapan teknik ini di wilayah masing-masing.

Instruktur/Pengelola: Pelatihan ini dipandu langsung oleh pengelola P2MKP Amphibi Tapsel, Bapak Marihot Anton Sihombing, yang memiliki keahlian di bidang perikanan.

Materi dan Tahapan Pelatihan (Teori & Praktik)

Pelatihan ini dirancang dengan porsi praktik yang lebih besar daripada teori, untuk memastikan peserta benar-benar menguasai keterampilan yang diajarkan.

Berikut adalah rincian materi dan tahapan yang dilaksanakan: Hari Pertama (Rabu, 19 Maret 2025): Pembukaan Resmi: Dibuka oleh Anggota DPRD Tapsel, Rocky A.P. Gultom, S.H., bersama pengelola P2MKP. Registrasi & Teori Dasar: Peserta melakukan registrasi dan langsung mendapatkan pemaparan materi dasar mengenai teknik pembenihan ikan mas. Hari Kedua dan Seterusnya (Pelatihan Intensif):

Persiapan Kolam Pemijahan: Peserta belajar secara langsung bagaimana menyiapkan kondisi kolam yang ideal untuk proses pemijahan (perkawinan) induk ikan.

Pembuatan Kakaban: Pelatihan praktik membuat kakaban, yaitu media dari ijuk atau bahan sejenis yang berfungsi sebagai tempat menempelnya telur ikan setelah dibuahi.

Seleksi Induk Berkualitas: Ini adalah salah satu materi kunci. Peserta diajarkan cara membedakan induk jantan dan betina yang matang gonad (siap kawin), sehat, dan memiliki genetika unggul. Teknik Pemijahan Semi-Buatan: Peserta mempraktikkan proses inti, yaitu menyuntikkan hormon pada induk betina untuk merangsang ovulasi (pengeluaran telur), kemudian mempertemukannya dengan induk jantan di kolam yang telah dilengkapi kakaban.

Pencegahan Hama dan Penyakit: Materi penting untuk meminimalisir kegagalan. Peserta belajar mengidentifikasi dan menangani hama (seperti notonecta) dan penyakit yang biasa menyerang larva ikan.

Teknik Pembuatan Pakan Larva: Mengingat larva ikan sangat rentan, peserta diajarkan cara membuat atau mempersiapkan pakan alami (seperti infusoria) atau pakan buatan yang sangat halus untuk menunjang pertumbuhan di fase awal. Puncak Kegiatan (Selasa-Rabu, 25-26 Maret 2025): Pengangkatan Kakaban: Peserta mempraktikkan cara mengangkat kakaban yang sudah penuh dengan telur untuk dipindahkan ke kolam penetasan.

Pemberian Pakan Larva: Praktik langsung memberikan pakan kepada larva yang baru menetas. Evaluasi dan Penutupan: Sesi evaluasi untuk mengukur pemahaman peserta, diakhiri dengan penutupan resmi oleh Bupati Tapanuli Selatan dan penyerahan sertifikat.

Dampak dan Harapan

Dalam acara penutupan, Bupati Tapanuli Selatan menekankan bahwa pelatihan ini adalah fondasi untuk mewujudkan swasembada ikan. Kecamatan Batangtoru dan Marancar dijadikan sebagai pilot project. Jika berhasil, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan dan instruktur bagi warga lain di desanya. Skema ini akan direplikasi ke kecamatan lain, dengan fokus utama pada pembesaran ikan, karena benihnya sudah bisa diproduksi secara lokal. Pengelola P2MKP Amphibi Tapsel berharap ilmu yang didapat dapat segera diterapkan untuk meningkatkan produksi ikan mas, sehingga sektor perikanan di Tapanuli Selatan semakin berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

Catatan dari Perspektif Eco Teologi

Kritik Keras dari Sudut Pandang Eco-Teologi: “Efisiensi” yang Mengkhianati Penciptaan

Meskipun program Pelatihan Pembenihan Semi Buatan Ikan Mas di Tapanuli Selatan tampak mulia dari kacamata ekonomi dan ketahanan pangan, dari perspektif Eco-Teologi, program ini mengandung cacat filosofis yang mendasar dan berpotensi mengkhianati esensi hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Eco-Teologi memandang bahwa alam (bumi, air, hewan, tumbuhan) bukanlah sekadar “sumber daya” (resource) mati yang siap dieksploitasi, melainkan Ciptaan (Creation) yang memiliki nilai intrinsik dan kesuciannya sendiri. Manusia ditempatkan bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai Khalifah (Steward) atau pengelola yang diamanahi tugas untuk merawat, menjaga, dan memelihara keharmonisan Ciptaan.

Dari lensa ini, program pelatihan tersebut dapat dikritik secara tajam pada beberapa poin fundamental:

1. Aroganitas Antroposentrisme: Intervensi “Semi-Buatan” vs. Kedaulatan Alam

Istilah “semi-buatan” itu sendiri adalah sebuah bendera merah. Teknik ini melibatkan penyuntikan hormon untuk memaksa induk ikan berovulasi sesuai jadwal manusia, bukan sesuai ritme alaminya. Ini adalah bentuk intervensi yang lahir dari arogansi antroposentris—pandangan bahwa manusia adalah pusat segalanya dan alam harus tunduk pada kehendak dan efisiensi manusia.

Kritik Teologis: Tindakan ini mereduksi ikan, makhluk hidup ciptaan Tuhan, menjadi sekadar mesin produksi telur. Proses reproduksi yang sakral diintervensi dan dipaksakan demi target kuantitas. Manusia tidak lagi berperan sebagai mitra yang bekerja bersama alam, melainkan sebagai dominator yang memaksa alam. Ini mengikis rasa hormat terhadap proses-proses kehidupan yang telah dirancang oleh Sang Pencipta. Ini adalah bentuk “jalan pintas” yang mengabaikan kearifan dan kedaulatan proses alami.

2. Reduksionisme Ekonomi dan Pengabaian Keanekaragaman Hayati

Program ini berfokus secara eksklusif pada satu spesies (ikan mas) untuk produksi massal (monokultur). Pendekatan ini adalah cerminan dari reduksionisme ekonomi, di mana nilai sebuah ekosistem direduksi hanya pada potensi profitnya.

Kritik Teologis: Tuhan menciptakan dunia dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang luar biasa. Setiap spesies memiliki peran unik dalam jaring-jaring kehidupan. Memfokuskan seluruh energi, sumber daya, dan keterampilan hanya pada satu spesies adalah bentuk pengabaian terhadap kekayaan Ciptaan. Ini adalah paradigma industri, bukan paradigma ekologis. Sebagai khalifah, seharusnya manusia menjaga dan bahkan memperkaya keanekaragaman, bukan menyeragamkannya demi kemudahan produksi. Apa yang terjadi dengan spesies ikan lokal lain yang mungkin lebih adaptif dan memiliki peran ekologis penting? Mereka terpinggirkan.

3. Ilusi “Kemandirian” dan Potensi Perbudakan Baru. Program ini bertujuan menciptakan “kemandirian”, namun kemandirian yang ditawarkan sangat rapuh dan artifisial. Teknik semi-buatan ini menciptakan ketergantungan baru: Ketergantungan pada Hormon: Para petani akan bergantung pada pasokan hormon (seperti ovaprim) yang diproduksi oleh industri farmasi besar, sering kali dari luar daerah atau bahkan luar negeri. Ini bukan kemandirian sejati, melainkan memindahkan ketergantungan dari “benih luar” menjadi “hormon luar”. Ketergantungan pada Pakan Pabrikan: Budidaya intensif monokultur hampir selalu berujung pada ketergantungan pada pakan pabrikan yang harganya fluktuatif dan dikontrol oleh korporasi.

Kritik Teologis: Dari sudut pandang teologi pembebasan dan keadilan (salah satu cabang eco-teologi), ini bukan program pembebasan ekonomi, melainkan berpotensi menciptakan bentuk perbudakan baru. Petani diikat pada rantai pasok industri yang tidak mereka kontrol. Keadilan ekologis (ecological justice) menuntut sistem yang benar-benar memandirikan komunitas lokal dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan, bukan menjerat mereka dalam sistem industri global.

4. Kegagalan Peran sebagai Khalifah: Dari Merawat menjadi Mengeksploitasi.

Fokus utama pelatihan adalah pada teknik produksi—bagaimana cara menghasilkan benih sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Namun, sangat sedikit (atau bahkan tidak ada) penekanan pada etika ekologis.

Kritik Teologis: Peran sebagai khalifah adalah peran yang holistik. Seharusnya, pelatihan tidak hanya mengajarkan “cara”, tetapi juga “mengapa” dan “untuk apa” dengan landasan spiritual. Seharusnya ada modul tentang dampak limbah kolam terhadap sungai, tentang pentingnya menjaga kualitas air sebagai anugerah bersama, dan tentang tanggung jawab moral untuk tidak merusak ekosistem demi keuntungan sesaat.

Tanpa fondasi etis ini, program tersebut hanya mencetak teknisi eksploitasi, bukan penjaga Ciptaan. Alternatif dari Perspektif Eco-Teologi

Sebuah program yang selaras dengan prinsip Eco-Teologi akan terlihat sangat berbeda:

Fokus pada Spesies Lokal (Native): Memprioritaskan budidaya dan pembenihan spesies ikan asli Tapanuli Selatan yang sudah beradaptasi dengan lingkungan lokal dan memiliki ketahanan alami.

Pendekatan Akuakultur Permakultur: Mengembangkan sistem budidaya terpadu di mana kolam ikan menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang lebih besar (misalnya, air kolam yang kaya nutrisi digunakan untuk menyiram tanaman, sisa organik dari pertanian menjadi pakan tambahan ikan). Teknik Pemijahan Alami yang Dioptimalkan: Daripada menyuntikkan hormon, fokusnya adalah menciptakan lingkungan kolam yang sempurna (kualitas air, substrat, tanaman air) yang dapat merangsang ikan untuk memijah secara alami. Ini adalah bentuk kerja sama dengan alam, bukan pemaksaan.

Pendidikan Holistik: Materi pelatihan harus mencakup etika lingkungan, pemahaman tentang ekosistem lokal, dan refleksi teologis tentang peran manusia sebagai perawat bumi.

Kesimpulan:

Program pelatihan pembenihan semi-buatan, meskipun lahir dari niat baik untuk pembangunan ekonomi, secara fundamental cacat dari kacamata Eco-Teologi. Program ini mewakili paradigma antroposentris, reduksionis, dan eksploitatif yang melihat alam sebagai objek. Ia gagal memenuhi panggilan luhur manusia sebagai khalifah yang adil dan bijaksana. Seharusnya, Pemkab Tapanuli Selatan berani melangkah menuju model pembangunan yang lebih otentik, yang menyelaraskan kesejahteraan ekonomi manusia dengan kesehatan dan kesucian Ciptaan Tuhan.

PROPOSAL MANAJERIAL

Program Akuakultur Berkah: Harmoni Ekonomi dan Ekologi di Tapanuli Selatan

1. LATAR BELAKANG & PERGESERAN PARADIGMA

Program pelatihan sebelumnya yang berfokus pada teknik “pembenihan semi-buatan” telah diidentifikasi memiliki kelemahan filosofis yang mendasar. Meskipun bertujuan baik secara ekonomi, pendekatannya bersifat antroposentris, reduksionis, dan eksploitatif. Hal ini menciptakan risiko ketergantungan pada input eksternal (hormon, pakan pabrikan), mengancam keanekaragaman hayati melalui monokultur, dan menjauhkan manusia dari perannya sebagai Khalifah (pengelola) Ciptaan yang arif.

Proposal ini dirancang sebagai koreksi total terhadap paradigma tersebut. Kami tidak lagi bertujuan untuk “memaksa” alam demi efisiensi jangka pendek. Sebaliknya, kami bertujuan membangun sebuah model akuakultur yang regeneratif, berkeadilan, dan berkelanjutan, di mana kesejahteraan ekonomi masyarakat adalah buah dari keharmonisan hubungan mereka dengan ekosistem lokal.

Nama Program Baru: “Akuakultur Berkah” – sebuah nama yang menyiratkan bahwa hasil ekonomi adalah berkah yang lahir dari praktik yang selaras dengan alam dan nilai-nilai etis.

2. VISI DAN MISI

Visi: Mewujudkan komunitas pembudidaya Tapanuli Selatan yang sejahtera secara ekonomi, mandiri secara sumber daya, dan menjadi teladan dalam praktik akuakultur yang berkeadilan ekologis serta menghormati keagungan Ciptaan.

Misi:

Transformasi Keterampilan: Mengubah fokus dari teknik intervensi (semi-buatan) ke optimalisasi proses alami (pemijahan alami yang didukung lingkungan).

Mempromosikan Polikultur & Spesies Lokal: Mendorong budidaya beragam spesies, dengan prioritas pada ikan asli (native) yang memiliki ketahanan ekologis.

Mengembangkan Sistem Sirkular (Zero-Waste): Mengintegrasikan akuakultur dengan pertanian (permakultur) untuk menciptakan siklus nutrisi tertutup.

Membina Karakter Khalifah: Menanamkan etika dan kesadaran ekologis sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap keterampilan teknis.

3. STRATEGI IMPLEMENTASI (PENDEKATAN 3 FASE). Program ini menargetkan pembudidaya yang memiliki kemauan untuk belajar dan berubah, bukan sekadar mencari bantuan sesaat.

 

FASE 1: Fondasi Etis dan Identifikasi Pelopor (Durasi: 4 Bulan)

Fokus: Membangun landasan filosofis dan memilih peserta yang paling berkomitmen (Tepat Sasaran).

Kegiatan

Deskripsi

Indikator Keberhasilan (KPI)

1. Lokakarya “Panggilan Ekologis”

Mengadakan serangkaian lokakarya di desa-desa target. Bukan tentang teknik, tapi tentang refleksi eco-teologis: peran manusia, kesucian air, nilai keanekaragaman hayati, dan bahaya keserakahan. Tujuannya adalah menyamakan frekuensi dan visi.

• Minimal 5 lokakarya diadakan dengan partisipasi >100 kepala keluarg Teridentifikasi minimal 30 calon peserta yang menunjukkan pemahaman dan antusiasme tinggi.

2. Pemetaan Sumber Daya Lokal

Bersama calon peserta, memetakan potensi lokal: jenis ikan asli, tanaman yang bisa jadi pakan alternatif (daun talas, azolla, maggot), sumber mata air, dll.

• Terbitnya “Peta Kearifan Ekologis Lokal” untuk setiap desa target. Teridentifikasi minimal 3 spesies ikan lokal potensial untuk dibudidayakan.

3. Pembentukan “Keluarga Pelopor”

Memilih 15-20 keluarga yang paling berkomitmen dari hasil lokakarya untuk menjadi angkatan pertama. Mereka menandatangani “Komitmen Khalifah” – sebuah pakta moral untuk menjalankan budidaya secara etis dan ekologis.

• Terpilih 15 “Keluarga Pelopor” yang menandatangani komitmen. Setiap keluarga pelopor memiliki rencana awal untuk lahan mereka.

FASE 2: Pengembangan Model Percontohan (Durasi: 12 Bulan)

Fokus: Membangun bukti nyata bahwa model ekologis bisa berhasil secara teknis dan ekonomis (Terukur).

Kegiatan

Deskripsi

Indikator Keberhasilan (KPI)

1. Sekolah Lapang Ekologis

Pelatihan intensif untuk Keluarga Pelopor dengan kurikulum baru: (a) Teknik Pemijahan Alami Teroptimasi (menciptakan lingkungan ideal, bukan suntik hormon). (b) Desain Kolam Polikultur (ikan mas, nila, gurami lokal dalam satu kolam). (c) Produksi Pakan Mandiri dari bahan lokal. (d) Manajemen Limbah (kompos dari lumpur kolam).

• 100% Keluarga Pelopor menguasai minimal 3 dari 4 modul utama• Minimal 50% kebutuhan pakan dapat diproduksi secara mandiri di akhir fase.Tingkat mortalitas ikan di sistem polikultur

2. Pembangunan Demplot “Akuakultur Berkah”

Setiap Keluarga Pelopor, dengan pendampingan, membangun atau memodifikasi kolam mereka menjadi demplot percontohan yang terintegrasi dengan kebun atau ternak kecil.

• 15 demplot berfungsi penuh sesuai prinsip ekologis. Outlet air dari kolam memiliki tingkat polutan (amonia) 50% lebih rendah dari kolam konvensional. Keanekaragaman hayati (serangga air, tanaman) di sekitar demplot meningkat.

FASE 3: Diseminasi dan Pembangunan Ekonomi Komunitas (Durasi: 18 Bulan)

Fokus: Menyebarkan keberhasilan dan membangun sistem ekonomi yang adil.

Kegiatan

Deskripsi

Indikator Keberhasilan (KPI)

1. Program “Dari Petani ke Petani”

Keluarga Pelopor menjadi “Guru Lokal”. Mereka membuka demplot mereka untuk dikunjungi dan menjadi tempat belajar bagi tetangga sekitar. Ini menciptakan penyebaran organik.

• Minimal 45 petani baru (3 per demplot) mengadopsi sebagian atau seluruh model Akuakultur Berkah. Terlaksananya 10+ sesi “Hari Tani Ekologis” yang dipimpin oleh Keluarga Pelopor.

2. Pengembangan Label “Pasar Berkah”

Menciptakan label/merek untuk produk dari sistem ini, yang menjamin ikan ditumbuhkan secara alami, etis, dan ramah lingkungan. Hal ini memungkinkan produk dijual dengan harga premium.

• Label “Pasar Berkah” berhasil didaftarkan dan dipromosikan. Produk berhasil masuk ke pasar khusus (restoran organik, komunitas sadar kesehatan, eco-resort).Harga jual produk 15-25% lebih tinggi dari ikan budidaya konvensional.

 

3. Pembentukan Koperasi Berkah Bersama

Mendirikan koperasi untuk mengelola pemasaran, distribusi, dan sertifikasi label “Pasar Berkah”. Keuntungan koperasi dibagi secara adil kepada anggota.

• Koperasi terbentuk dan memiliki minimal 30 anggota aktif. Koperasi berhasil mengelola minimal 1 ton penjualan ikan per bulan.

 

Export to Sheets

4. STRUKTUR MANAJERIAL DAN ANGGARAN

Struktur: Program dikelola oleh “Tim Fasilitator Lapangan” yang terdiri dari:

1 Ahli Akuakultur (dengan pemahaman ekologis).

1 Ahli Permakultur/Pertanian Terpadu.

1 Fasilitator Komunitas (dengan latar belakang sosiologi/pengembangan masyarakat). Tim ini tidak memerintah, melainkan mendampingi, memfasilitasi, dan belajar bersama masyarakat.

Anggaran: Anggaran diajukan sebagai investasi pada modal alam dan modal sosial. Alokasi utama bukan untuk bantuan fisik (pakan/hormon), melainkan untuk:

Biaya lokakarya dan pengembangan materi pendidikan etis.

Insentif awal untuk pembangunan demplot percontohan.

Biaya pengembangan merek dan akses pasar.

Operasional Tim Fasilitator.

5. KESIMPULAN

Proposal ini bukan sekadar perbaikan program, melainkan sebuah gerakan moral dan ekonomi. “Akuakultur Berkah” mengubah pertanyaan dari “Bagaimana kita bisa mendapatkan hasil maksimal dari alam?” menjadi “Bagaimana kita bisa hidup sejahtera sebagai bagian dari alam yang sehat?”. Dengan mengakar pada kearifan lokal dan etika kepengelolaan, program ini akan menciptakan kemandirian yang sejati, kesejahteraan yang berkelanjutan, dan yang terpenting, memulihkan martabat manusia sebagai perawat Ciptaan yang bertanggung jawab.

( Kaperwil su )