Di Mimbar Masjid Baitul Quddus Aib Dibuka: Jamaah Rela Jual Rumah Demi Menutup Luka yang Bukan Miliknya

NEWS

Batang Kuis | BuserBhyangkara – Sebuah surat terbuka dari seorang jamaah bernama Abdul Hadi mengguncang ketenangan Masjid Baitul Qudus di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Batang Kuis. Isi surat itu bukan sekedar keluhan biasa, melainkan ledakan kegelisahan yang menyingkap dugaan persoalan keuangan, krisis empati, hingga retaknya nilai kemanusiaan di ruang ibadah.

Dalam surat yang ditujukan kepada Ketua BKM Mesjid Baitul Quddus dan jajaran pengurus, Abdul Hadi mengungkap bahwa selama beberapa pekan terakhir, mimbar masjid kerap digunakan untuk mengumumkan persoalan laporan pertanggung jawaban (LPJ) pengurus lama yang disebut belum dikembalikan. Pengumuman itu disampaikan berulang kali di hadapan jamaah.

Apa yang seharusnya menjadi urusan internal, kini berubah menjadi konsumsi publik. Masjid, yang semestinya menjadi tempat menenangkan hati, justru menjadi arena penghakiman yang perlahan menggerus kehormatan seseorang.

Saya tidak memiliki kepentingan apa pun,” tulis Abdul Hadi. Namun sebagai jamaah yang rutin beribadah, ia merasa terpanggil untuk bersuara ketika nilai-nilai keadilan dan kepatutan mulai terabaikan.

Sorotan paling tajam dalam surat itu tertuju pada kondisi ketua BKM lama yang disebut tengah berjuang melawan penyakit serius dan harus menjalani cuci darah secara rutin. Dalam situasi seperti itu, pengumuman berulang di hadapan publik dinilai bukan lagi sekedar penegasan administrasi, melainkan telah menjelma menjadi bentuk tekanan moral.

Abdul Hadi secara tegas mempertanyakan sikap pengurus yang dinilai mengabaikan rasa empati. Ia menilai, jika memang ada dugaan pelanggaran hukum, seharusnya diselesaikan melalui jalur resmi, bukan diumbar di ruang ibadah yang suci.

apakah tidak ada rasa empati sedikit pun?” tulisnya, dalam kalimat yang terasa seperti tamparan keras bagi semua pihak.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam ajaran, menjaga aib sesama adalah bagian dari kemuliaan. apa yang terjadi justru sebaliknya persoalan pribadi diseret ke ruang publik tanpa pertimbangan dampak psikologis dan sosial.

tak hanya mengkritik, Abdul Hadi juga menawarkan jalan keluar. Ia meminta agar persoalan ini diselesaikan melalui musyawarah dengan melibatkan pihak berkompeten seperti Muspika kecamatan,Kapolsek, Camat, hingga Danramil agar ada kejelasan dan keadilan, bukan hanya sekedar opini yang berkembang liar.

namun, bagian paling mengejutkan sekaligus menggetarkan dari surat tersebut adalah pernyataan kesediaannya untuk menanggung beban yang bukan miliknya.

Dengan nada tegas, ia menyatakan siap mengambil alih tanggung jawab atas dugaan kekurangan dana. Bahkan, ia rela menjual rumah pribadinya di Desa Paya Gambar demi menutup persoalan tersebut.

saya siap membayarkan, bahkan menjual rumah pribadi saya jika diperlukan,” tulisnya, seraya menyatakan kesiapannya membuat perjanjian resmi di hadapan notaris.

Pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar. apakah ini bentuk kepedulian yang luar biasa, atau justru cerminan betapa beratnya tekanan yang terjadi hingga seorang jamaah merasa harus berkorban sejauh itu?

langkah ekstrem ini sekaligus menjadi alarm keras bahwa persoalan yang terjadi bukan lagi sekedar administrasi, melainkan sudah menyentuh ranah kemanusiaan yang paling dalam.

Di akhir suratnya, Abdul Hadi menegaskan bahwa semua yang ia lakukan semata-mata demi kebaikan masjid dan mengharap ridha alloh Swt. Ia berharap polemik ini tidak semakin melebar dan hubungan antarjamaah tetap terjaga.

Surat tersebut juga ditembuskan kepada sejumlah pihak, mulai dari Camat Batang Kuis, Kapolsek, Danramil, Kepala KUA, Kepala Desa Tanjung Sari, tokoh agama, hingga jamaah.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak pengurus masjid. Namun, gelombang dampaknya sudah terasa. Perbincangan di tengah masyarakat kian memanas, disertai rasa cemas dan tanda tanya yang belum terjawab.

Peristiwa ini menjadi cermin getir bahwa konflik yang tidak dikelola dengan bijak dapat merusak lebih dari sekadar reputasi—ia bisa meretakkan kepercayaan, mengikis empati, dan mencederai kesucian ruang ibadah itu sendiri.

Kini publik menanti, apakah akan ada penyelesaian yang adil dan bermartabat, atau justru luka ini akan terus menganga di balik dinding masjid yang seharusnya menjadi tempat paling damai bagi setiap insan.

(Tim pemantau keadilan )