Membaca Arah “Politik Jalan Tengah” Di Musda Golkar Sumut: Siapa Nakhoda Baru?
Oleh: Dr.Suheri Harahap M.Si (Mantan Sekretaris DPD KNPI Sumut)
Medan ~ buserbhayangkaranews.com|(19/1/2026) Dinamika internal Partai Golkar di Sumatera Utara pasca-pencopotan Musa Rajekshah (Ijeck) dari kursi ketua terus memanas. Kehadiran Ahmad Doli Kurnia Tandjung sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Golkar Sumut dipandang bukan sekadar pengisi kekosongan, melainkan upaya konsolidasi besar untuk merajut kembali faksi-faksi yang sempat terfragmentasi.
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sumut, pertanyaan besar muncul: Siapa sosok yang mampu membangun harmonisasi dan soliditas kader demi target Pemilu 2029?
Pengamat politik sekaligus Mantan Sekretaris DPD KNPI Sumut, Dr. Suheri Harahap, M.Si, menilai saat ini muncul dua poros kekuatan besar yang merepresentasikan karakteristik politik berbeda di Sumatera Utara. Keduanya adalah Hendri Yanto Sitorus (Labuhan batu Utara) dan Andar Amin Harahap (Padang Lawas Utara).
Pertarungan ini lebih dari sekadar perebutan jabatan. Ini adalah benturan dua karakter politik yang berbeda namun sama-sama kuat. Keduanya adalah representasi regenerasi baru dari tokoh besar, yakni H. Buyung Sitorus dan H. Bachrum Harahap, ujar Suheri.
Suheri memetakan bahwa peta dukungan saat ini terbagi dalam dua logika politik. Jika tolok ukurnya adalah dukungan elit pengurus dan kedekatan struktural, maka angin segar cenderung berhembus ke arah Andar Amin Harahap. Namun, jika Golkar ingin mengambil skema “Politik Jalan Tengah” untuk merangkul semua pihak, nama Hendri Yanto Sitorus dinilai memiliki peluang kuat.
Strategi yang condong pada politik jalan tengah serta sinkronisasi antara restu DPP dan pemerintah akan jauh lebih elegan bagi kepemimpinan Golkar ke depan, tambahnya.
Sejarah mencatat, tradisi Musda Golkar sering kali berakhir di meja kompromi yang melahirkan calon tunggal atau aklamasi. Akankah skema ini kembali terulang?
Publik kini menanti apakah Ahmad Doli Kurnia mampu menciptakan “Jalan Baru” yang memberikan ruang demokrasi bagi kader, sekaligus memastikan nakhoda baru nantinya adalah figur yang mampu berkolaborasi dengan pemerintah provinsi namun tetap menjaga marwah partai sebagai pemenang.
Teka-teki siapa yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan pasca-ijeck diperkirakan akan tetap menjadi bola panas hingga detik-detik terakhir pembukaan Musda XI mendatang.
(gustian)
