Harimau di Balik Ladang: Misteri Jejak Maut Di Ladang Warga Yang Terancam Serangan Mematikan Menghantui Desa
Pola Tebu, Karo ~ buserbhayangkaranews.com| (24/9/2025) Suasana mencekam menyelimuti warga Desa Pola Tebu, Kecamatan Kutabuluh. Dalam sepekan terakhir, dua lokasi perladangan warga digegerkan dengan penemuan bekas tapak misterius yang diduga kuat milik harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis).
Penelusuran tim investigasi menyebutkan, jejak pertama ditemukan oleh seorang petani bernama Andika Kaban (36). Pada Selasa (16/9/2025) siang, saat hendak menuju ladangnya di Perjuman Uruk Kecing, ia mendapati bekas tapak besar dengan pola cakar mencurigakan. Bentuknya menyerupai telapak kaki harimau yang tengah mengintai mangsanya.
Sehari berselang, Rabu (17/9/2025) sore, Wisnu Saputra Karo-Karo, warga lainnya, juga mengalami kejadian serupa di kawasan Perjuman Lau Angkat. “Saya langsung merinding. Jejaknya masih baru, seolah harimau itu baru saja lewat,” ujar Wisnu dengan wajah pucat saat ditemui di kediamannya.
Warga kini dicekam ketakutan. Kawasan ladang yang selama ini menjadi sumber penghidupan justru berubah menjadi arena teror tak kasatmata. Si raja hutan diduga telah masuk terlalu dekat dengan pemukiman.
Menurut rumor yang beredar di masyarakat bahwa harimau sumatera yang ada di kawasan perladangan di desa mereka berasal dari pelepasliaran oleh aparat terkait.
Kapolsek Kutabuluh, AKP Poltak H. Hutahean, membenarkan laporan warga. Polisi bahkan sudah turun langsung ke lokasi. “Kami sudah mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di ladang pada malam hari. Situasi ini berpotensi sangat berbahaya,” tegasnya, Jumat (19/9/2025).
Pihak kepolisian juga menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menelusuri kebenaran temuan ini. Namun, hingga kini, belum ada kepastian apakah satwa liar tersebut masih berkeliaran di sekitar pemukiman.
Di balik kecemasan itu, muncul dugaan lain: apakah harimau ini turun ke perkampungan karena habitatnya semakin terdesak? Jika benar, maka ancaman tidak hanya sekali ini saja—warga Kutabuluh bisa jadi hidup berdampingan dengan predator mematikan.
Hingga berita ini diturunkan, aparat desa masih siaga dan meminta warga tetap waspada. Namun keresahan sudah telanjur meluas. “Kami takut, ladang itu satu-satunya sumber makan kami. Kalau harimau benar-benar ada, nyawa kami taruhannya,” ungkap seorang warga yang meminta namanya tidak disebut.
Kutabuluh kini bukan hanya desa di lereng pegunungan—tetapi juga panggung misteri antara manusia dan predator buas yang siap memangsa kapan saja.
(Fahmi)
